Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

21 Oktober, 2008

puisi

Cerita Malam

Hening menggauli malam
Dalam dekapan rembulan temaram
Berbisik mesra nyanyian jangkrik
Membuai Kesyahduan malam

Langit gelap membelai bintang – bintang
Awan putih bergelayut mesra
Kerlip bintang merona pasi
Menatap hamparan bumi

Dedaunan terhenyak
Desahan angin malam mereda
membisikkan ikrar alam
merengkuh asa kedamaian

puisi

Frustasi

Bayang- bayang berkelebat
Lenyap ditelan masa
Menjauh tak berbekas
Bersih tersapu oleh amarah

Tak kan kembali
Layak bulan pergi disiang hari
Kan datang ketika kelam
Tapi kau Pergi bak air menuju laut

Jangan kembali
Sebab pungguk rindukan bulan
Aku perih menanggung cinta
Kamu bukan pencinta hakiki

Meski kau pinta
Layar hati mustahil mengembang
Sebab perahu hati telah menepi
Dipelabuhan tambatan hati

Layar hati telah mengembang
Dipelabuhan dambaan lain
Kehakikian cinta kurengkuh
Merapat didermaga hati

16 Oktober, 2008

PUISI 8

Korupsiphoria

Pejabat sedang gandrung
Gandrung dengan mode yang sedang ngetrend
mode korupsi yang menjadi buah bibir
dari pejabat tinggi hingga terbawah

korupsiphoria melanda negeri ini
mengangkat popularitas pejabat
untuk tampil sebagai sosok idola
idola dimata hukum

korupsiphoria kini naik daun
meski warisan sejak ratusan tahun silam
namun popularitasnya merangkak saat ini
dengan performance yang fenomenal

korupsiphoria mengorbitkan
aktor/aktris penjahat uang negara
menjadi bintang yang siap beraksi
dengan skenario pembelaan

PUISI 7

Wajah – wajah Pemimpin

Kau tampak dekil dan kotor
Dibalik jas safari yang rapi
Karena kebijakan kotor
Yang menindas rakyat

Kau bak derakula penghisap darah
Yang duduk manis dikursi kekuasaanmu
yang menghisap hak orang kecil
Dengan kekuasaan di tanganmu

Kau bak kolonial
Menjajah kebebasan dan kesempatan
Anak – anak bangsa
Untuk mengenyam pendidikan murah dan layak

Kau orang sinting
Yang senang dengan kekayaan
Namun juga senang melihat orang kecil semakin miskin
Sebab kau tak berpihak kepada kaum miskin

PUISI 6

Figura Bangsaku

Figura indah melekat kokoh
figura yang merangkai keindahan
agama, suku, budaya yang beraneka ragam
dalam satu figura negara yang manis

Figura yang bergambar unik
yang merangkai ribuan pulau
melukiskan ribuan mil lautan membentang
dari sabang hingga merauke

Figura yang mahal
yang memendam mineral dan gas
figura yang berhiaskan kekayaan alam
bertuliskan “INDONESIA” dengan tinta emas perjuangan

PUISI 5

DERA MENDERU

Langkah kaki yang goyah
Menopang tubuh di tepi jurang kehancuran
Menahan gejolak birahi
Yang semakin ganas menggerogoti

Tak tertahankan beban ini
Meski harus tertatih menatap langkah
Harus mencoba untuk bertahan
Berdiri tegak di jurang yang labil

Sampai kapan aku kuat menahan
Semakin kuat pula beban menghimpit
Tubuh dan iman yang semakin ringkih
Menopang godaan semakin mendera

PUISI 4

Senandung Awal Hari

Pagi menyapa dunia
Mengalun mesra kicauan burung
Embun menyelimuti dunia dengan selimut putih
Fajar tersipu di ujung timur

Sinar hangat menyeruak
Suka cita dunia bergejolak
Daun daun mulai terbangun dari lelapnya
Rona bunga memancarkan romansa

Kegelapan pergi perlahan
Memberi ruang sang mentari
Membangkitkan gairah pada dunia
Bernafas dan berbuat

PUISI 3

Cinta & Waktu

Meski jauh dari pandanganku
Kau begitu dekat dihatiku
Tak tampak dari tatapanku
Tapi kau hadir di relung hatiku

Tak terbatas oleh waktu
Semakin jauh kau tetap bersamaku
Meski rasa ini saja
Namun hadirmu selalu setia disini

Kekuatan cinta
Tak perlu kau ucap
Kurasakan kekuatan itu disanubariku
Meski segalanya harus terpisah

Puisi 2

Cerita Malam

Hening menggauli malam
Dalam dekapan rembulan temaram
Berbisik mesra nyanyian jangkrik
Membuai Kesyahduan malam

Langit gelap membelai bintang – bintang
Awan putih bergelayut mesra
Kerlip bintang merona pasi
Menatap hamparan bumi

Dedaunan terhenyak
Desahan angin malam mereda
membisikkan ikrar alam
merengkuh asa kedamaian

puisi 1

Frustasi

Bayang- bayang berkelebat
Lenyap ditelan masa
Menjauh tak berbekas
Bersih tersapu oleh amarah

Tak kan kembali
Layak bulan pergi disiang hari
Kan datang ketika kelam
Tapi kau Pergi bak air menuju laut

Jangan kembali
Sebab pungguk rindukan bulan
Aku perih menanggung cinta
Kamu bukan pencinta hakiki

Meski kau pinta
Layar hati mustahil mengembang
Sebab perahu hati telah menepi
Dipelabuhan tambatan hati

Layar hati telah mengembang
Dipelabuhan dambaan lain
Kehakikian cinta kurengkuh
Merapat didermaga hati